Tips Tidak Mudah Sakit

makanPola hidup masyarakat rumpun Melayu makin terpengaruh gaya hidup barat sebagai dampak globalisasi. Hal ini ditandai tingginya tingkat konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak. Akibatnya, makin banyak orang yang mengalami hipertensi dan kolesterol tinggi.

Demikian disampaikan Prof Sidartawan Soegondo dari Divisi Endrokrinologi dan Metabolisme Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, dalam Konferensi Ilmu Kedokteran Malaysia, Indonesia, Brunei ke-5, Kamis (23/7), di Jakarta.

Tingginya angka kasus penyakit kronik atau penyakit tidak menular mencerminkan perubahan kultur, sosial dan ekonomi seiring globalisasi, urbanisasi dan peningkatan populasi penduduk usia lanjut. Populasi di negara berpendapatan menengah ke bawah kini banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, garam dan gula.

Peningkatan konsumsi jenis makanan itu di negara-negara tersebut dipicu oleh peningkatan pendapatan masyarakat dan keterbatawan waktu untuk menyiapkan makanan. Sasaran pemasaran global saat ini adalah anak-anak dan remaja yang menyebabkan perilaku makan tidak sehat.

Hal ini menyebabkan risiko penyakit kronik makin tinggi pada usia lebih muda di negara-negara berkembang. Populasi dengan kolesterol tinggi dan kelebihan berat badan menin gkat cepat saat negara-negara miskin jadi lebih kaya dan pendapatan masyarakat meningkat. Urbanisasi membuat warga terpapar produk baru, teknologi, pola makan tak sehat, dan jarang beraktivitas fisik.

Pola makan masyarakat rumpun Melayu yang terbiasa makan banyak sayuran kini bergeser jadi tinggi kalori dan lemak seperti pola makan barat padahal secara genetik masyarakat rumpun Melayu tidak butuh banyak kalori, kata Saptawati Bardosono dari Departemen Gizi FKUI. Namun perubahan pola makan ini tidak diikuti dengan memperbanyak aktivitas fisik.

Meningkat

Hal ini menyebabkan peningkatan jumlah kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi, diikuti penggunaan tembakau, total kolesterol, sedangkan konsumsi sayuran dan buah-buahan relatif rendah. Faktor risiko pen yakit kardiovaskular umumnya berkaitan dengan perubahan gaya hidup. Obesitas berkaitan dengan diabetes melitus, kata Sidartawan.

Dalam studi kolaborasi antara FKUI dan Fakultas Kedokteran Universitas Kebangsaan Malaysia menunjukkan ada kesamaan profil hipertensi pada masyarakat dua negara itu. Hasil studi tentang hipertensi menunjukkan, angka hipertensi di komunitas perkotaan dan pedesaan tinggi, hal serupa terlihat di Malaysia.

Pre hipertensi dialami 41,4 persen responden di pedesaan di Lido, Bogor, 34,9 persen responden di Jakarta, dan 38,1 persen responden di Malaysia. Hipertensi tahap satu dialami 20,7 persen responden di Lido, sebanyak 26,9 persen responden di Jakarta, dan 23,5 persen di Malaysia. Hipertensi tahap dua justru lebih banyak dialami resp onden di pedesaan yaitu 16,8 persen daripada di perkotaan (14,6 persen).

Sementara angka obesitas di Jakarta sebanyak 27,9 persen dari total responden, dan di Malaysia mencapai 43,6 persen dari total jumlah responden. Obesitas dipengaruhi oleh pola makan yang dikonsumsi masyarakat. “Tingginya angka obesitas di Malaysia kemungkinan karena kebiasaan konsumsi makanan berlemak tinggi,” kata Prof Bastaman Basuki dari Departemen Kedokteran Komunitas FKUI yang ikut dalam studi itu.

Sumber

This entry was posted in Kesehatan. Bookmark the permalink.